Jujur aja, pasar handheld gaming PC belakangan ini mulai berasa ‘gitu-gitu aja’. Kita udah kenyang dikasih form factor “sabun batangan” ala Steam Deck atau ROG Ally yang bedanya cuma di jeroan doang. Tapi, bocoran terbaru yang baru aja mampir ke meja redaksi saya sukses bikin mata melek lagi. Lenovo kayaknya lagi ngeracik sesuatu yang gila: Lenovo Legion Go Fold.
Bayangin, sebuah perangkat yang pas dipegang rasanya kayak handheld 7 inci biasa, tapi begitu butuh layar gede, dia bisa dibuka (unfold) jadi tablet raksasa 11,6 inci. Ini bukan cuma evolusi, tapi mutasi genetik antara laptop, tablet, dan konsol portable.
Saya, Dimas Aditya, bakal bedah tuntas bocoran ini dari kacamata enthusiast. Apakah ini masa depan gaming portable, atau cuma pamer teknologi yang bakal nyusahin dompet dan logika?
Shapeshifter: Dari Handheld Jadi Mini Rig
Konsep utamanya jelas: fleksibilitas brutal. Bocoran visual memperlihatkan perangkat dengan layar pOLED lipat. Saat ditekuk atau dilipat, dia berfungsi sebagai handheld gaming standar dengan layar 7,7 inci. Ukuran ini udah cukup sweet spot, sedikit lebih besar dari Legion Go generasi pertama tapi tetap portable buat dimainin sambil rebahan.
Nah, ‘magic’-nya terjadi pas kalian buka lipatannya. Layarnya membentang jadi 11,6 inci. Buat perspektif, ukuran segitu udah masuk ranah laptop ultra-compact atau tablet produktivitas. Artinya, Lenovo nggak cuma nargetin gamer yang mau main Cyberpunk 2077 di bus, tapi juga mereka yang butuh layar lega buat multitasking atau kerja tipis-tipis.
Yang bikin saya geleng-geleng adalah integrasinya. Perangkat ini dikabarkan bakal punya controller yang bisa dilepas (detachable), mirip pendahulunya. Plus, ada bundel keyboard dan touchpad nirkabel. Jadi, skenarionya: kalian main game di mode handheld, capek megang, lepas controller, buka layar jadi 11 inci, taruh di meja, dan boom—kalian punya mini gaming desktop on-the-go.
Inovasi atau Masalah Baru?
Layar lipat (foldable) di dunia smartphone aja masih sering kena isu crease (bekas lipatan) dan durabilitas. Di gaming handheld yang notabene bakal sering dipencet-pencet dan dibawa barbar, durabilitas engsel dan layar pOLED ini bakal jadi pertaruhan terbesar Lenovo.
Dapur Pacu: Lunar Lake Menggila
Oke, bentuk boleh futuristik, tapi kalau performanya kentang ya buat apa? Untungnya, bocoran spesifikasi nunjukin Lenovo nggak main-main. Legion Go Fold ini bakal ditenagai oleh Intel Core Ultra 7 258V, alias keluarga Lunar Lake.
Buat kalian yang belum catch up, Lunar Lake ini beda banget sama prosesor laptop biasa. Intel nanem RAM langsung di package prosesornya (Memory on Package). Hasilnya? Latency super rendah dan efisiensi daya yang jauh lebih baik. Ini krusial banget buat handheld yang nyawanya tergantung sama baterai.
Bocoran Spesifikasi Kunci
Processor | Intel Core Ultra 7 258V (Lunar Lake) |
GPU | Intel Arc 140V (Integrated) |
RAM | 32 GB LPDDR5X |
Layar (Folded) | 7.7 inci pOLED |
Layar (Unfolded) | 11.6 inci pOLED |
Konektivitas | Wi-Fi 7, Dual USB4 |
Yang bikin saya senyum lebar adalah kapasitas RAM-nya: 32 GB LPDDR5X. Ingat, di handheld gaming dengan iGPU (seperti Intel Arc 140V di sini), RAM sistem itu dibagi buat VRAM. Kalau RAM cuma 16GB, biasanya game AAA bakal engap karena VRAM-nya rebutan sama Windows. Dengan 32GB, kalian bisa alokasikan 8GB atau bahkan 12GB khusus buat VRAM, dan sisa RAM sistem masih lega banget buat multitasking. No more bottleneck memori!
GPU Arc 140V sendiri digadang-gadang punya performa yang cukup solid buat 1080p gaming. Memang belum sekelas GPU diskrit, tapi dengan arsitektur Xe2 terbaru, harusnya driver Intel udah jauh lebih matang dibanding pas awal-awal rilis Arc dulu.
Gimmick Controller & Multitasking
Lenovo juga kayaknya masih penasaran sama fitur “FPS Mode” mereka. Di bocoran ini, controller kanannya masih bisa berubah fungsi jadi mouse vertikal. Jujur, di Legion Go pertama, fitur ini agak hit or miss—keren idenya, tapi eksekusinya butuh adaptasi ekstra. Di versi Fold ini, mereka nambahin layar kecil di controller kanan buat nampilin status performa atau quick settings.
Tapi yang lebih menarik adalah Vertical Split-Screen Mode. Karena layarnya gede dan rasio aspeknya unik, kalian bisa main game di setengah layar, sementara setengahnya lagi buka YouTube (buat nonton walkthrough) atau Discord. Ini fitur yang ‘PC banget’. Gamer PC sejati pasti paham rasanya butuh layar kedua buat nyontek guide pas lagi stuck di game RPG.
Masalah Klasik: Baterai vs Layar Sultan
Nah, sekarang kita masuk ke reality check. Ini bagian yang bikin saya agak skeptis. Bocoran nyebutin kalau baterai yang ditanam kapasitasnya 48 Wh.
Lho, kok cuma segitu?
Sebagai perbandingan, ASUS ROG Ally X yang layarnya cuma satu dan fix aja bawa baterai 80 Wh. Ini Lenovo mau ngasih makan layar pOLED 11,6 inci PLUS prosesor Intel Core Ultra cuma pake 48 Wh? Meskipun Lunar Lake diklaim irit daya, hukum fisika nggak bisa dibohongin. Layar yang lebih lebar butuh daya lebih besar buat backlight (atau pixels di OLED).
Kekhawatiran Efisiensi
Saya curiga, kalau dipakai main game AAA rata kanan di mode layar penuh 11 inci, baterainya mungkin cuma tahan satu jam-an. Kecuali Lenovo punya power management ajaib atau layar ini punya teknologi refresh rate adaptif yang ekstrem (LTPO), kalian bakal jadi “penghuni tetap” colokan listrik.
Prediksi Harga & Relevansi di Indonesia
Ngomongin barang bocoran belum lengkap kalau nggak nebak harga. Kita lihat track record-nya dulu. Lenovo Legion Go 2 (model non-foldable) masuk Indonesia Oktober 2025 kemarin dengan harga Rp 17.999.000. Itu harga buat handheld premium ‘standar’.
Sekarang, tambahin komponen layar lipat pOLED (yang mahalnya minta ampun), mekanisme engsel kompleks, RAM 32GB on-package, plus bundel aksesoris keyboard. Nggak mungkin harganya di bawah 20 juta. Prediksi kasar saya? Barang ini kalau masuk resmi bisa tembus Rp 25 juta sampai Rp 30 juta.
Pertanyaannya: Buat siapa barang ini?
Kalau kalian gamer mendang-mending yang prioritasnya price-to-performance, lupakan. Dengan 25 juta, kalian bisa rakit PC desktop monster atau beli laptop gaming high-end dengan RTX 4070. Tapi, Legion Go Fold ini bukan jualan spek mentah. Dia jualan lifestyle dan versatility.
Buat eksekutif muda yang doyan gaming, atau tech enthusiast yang pengen satu device buat kerja di pesawat sekaligus push rank, ini barang impian. Di Indonesia, pasarnya pasti ada—kaum sultan yang koleksi gadgetnya udah kayak pameran Indocomtech.
Opini Dimas: Langkah Berani yang Berisiko
Lenovo rencananya bakal mamerin (atau seenggaknya ngasih teaser lebih jelas) soal perangkat ini di ajang MWC Barcelona tanggal 2 Maret 2026 nanti. Hall 3, Stand 3N30 bakal jadi saksi bisu apakah ini revolusi atau delusi.
Buat saya pribadi, saya apresiasi keberanian Lenovo. Pasar handheld butuh inovasi biar nggak stagnan di “layar kotak diapit stick”. Tapi sebagai reviewer yang kritis sama value, PR terbesar mereka ada dua: Daya tahan baterai dan durabilitas layar.
Kalau Lenovo bisa buktiin engselnya nggak ringkih dan baterainya bisa diandalkan, Legion Go Fold bisa jadi king of handhelds. Tapi kalau cuma modal tampang doang, nasibnya bakal sama kayak gadget eksperimental lain: viral seminggu, lalu dilupain.
Kita tunggu aja tanggal mainnya. Sambil nunggu, mending nabung dulu—siapa tau khilaf.
