Galaxy S26 Terasa Hambar? Xiaomi 17 Ultra Global Bawa 'Mekanik' Kamera yang Sebenarnya
Mobile

Galaxy S26 Terasa Hambar? Xiaomi 17 Ultra Global Bawa 'Mekanik' Kamera yang Sebenarnya

1 Maret 2026 | 7 Menit Baca | Ivan Setiawan

Akhirnya rilis global. Mekanisme zoom optik bergerak, sensor 1 inci baru, dan Leica APO. Apakah ini 'kamera' yang bisa nelpon?

Jujur saja, mood saya sedikit “datar” menjelang peluncuran seri Galaxy S26 yang tinggal menghitung hari. Bukan karena produknya jelek, tapi rasanya stagnan—seperti upgrade yang aman-aman saja berdasarkan bocoran yang ada. Bagi penggemar fotografi yang ke mana-mana lebih sering mengalungkan kamera mirrorless daripada membawa powerbank, rasanya butuh sesuatu yang lebih raw dan berani.

Dan sepertinya, doa para pixel peepers terjawab hari ini di Barcelona.

Tepat pukul 19:00 WIB tadi (atau siang hari waktu Barcelona), Xiaomi akhirnya membawa “monster” fotografi mereka ke panggung global MWC 2026: Xiaomi 17 dan Xiaomi 17 Ultra. Buat kalian yang sudah mengikuti rumornya sejak rilis China akhir tahun lalu, versi global ini membawa sedikit kejutan—ada yang manis, ada juga yang agak pahit soal spesifikasi baterai.

Tapi mari kita kesampingkan dulu angka-angka benchmark sintetik. Mari bicara soal kaca, cahaya, dan bagaimana benda ini bisa menggantikan kamera saku di tas saya.

Kamera: Definisi “Mekanik” yang Sesungguhnya

Poin utama yang membuat mata saya langsung melek adalah sistem Mechanical Optical Zoom di varian Ultra. Kita sudah lama terjebak di era “dual telephoto”—satu lensa 3x, satu lensa 5x atau 10x, dan di antaranya adalah digital crop yang seringkali pecah atau terlalu tajam karena oversharpening.

Xiaomi 17 Ultra mengubah permainan itu.

Spesifikasi Kamera Xiaomi 17 Ultra

Main Sensor
50MP 1-inch Light Fusion 1050L
Telephoto
200MP Leica APO (75-100mm continuous zoom)
Ultrawide
50MP Samsung JN5 (115° FOV)
Aperture Utama
f/1.67 Variable
Fitur Khusus
LOFIC HDR Tech

Lensa telephoto 200MP ini bukan lensa statis. Di dalamnya, elemen kaca benar-benar bergerak secara fisik untuk mengubah focal length dari 75mm ke 100mm. Ini bukan digital crop, teman-teman. Ini optik murni. Dalam konteks fotografi serius, ini berarti kita mendapatkan kompresi latar belakang (bokeh) yang natural dan resolusi penuh di setiap titik zoom tersebut.

Bayangkan kalian sedang street hunting di Pasar Baru atau Glodok. Jarak 75mm itu sweet spot untuk portrait, tapi kadang kurang “padat” untuk candid jarak jauh. Dengan menggeser ke 100mm secara optikal, kualitas tekstur kulit dan gradasi bayangan tetap terjaga tanpa artifak digital yang mengganggu.

Ditambah lagi label Leica APO (Apochromatic). Bagi yang awam, lensa APO itu dirancang khusus untuk membasmi chromatic aberration—itu lho, pinggiran ungu atau hijau yang suka muncul di foto kontras tinggi (misalnya motret dedaunan yang menantang matahari). Xiaomi mengklaim desain triple-glass di lensa periskop ini bisa menghilangkan masalah itu sepenuhnya.

Apa itu LOFIC?

Sensor utama Light Fusion 1050L menggunakan teknologi LOFIC (Lateral Overflow Integration Capacitor). Sederhananya, ini mencegah area terang (highlight) menjadi putih total (blown out) saat kondisi cahaya sangat kontras dengan cara memperluas kapasitas tampung cahaya pada sensor (full-well capacity).

Performa: Bukan Sekadar Ngebut

Dapur pacunya tentu saja menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5. Fabrikasi 3nm, core Oryon V3, clock speed sampai 4.6 GHz. Di atas kertas, ini overkill untuk sekadar buka Instagram atau WhatsApp.

Tapi kekuatan prosesor ini sebenarnya paling relevan saat processing image. Mengolah data dari sensor 1 inci dan telephoto 200MP itu butuh bandwidth gila-gilaan, apalagi kalau kalian hobi memotret dalam format RAW atau mode 200MP penuh. Shutter lag adalah musuh utama street photographer, dan chipset ini menjanjikan pengalaman jepret yang instan—sesuatu yang seringkali jadi kelemahan HP dengan sensor besar.

Display & Power

Brightness 3500 nits
High
HyperRGB Technology
Resolution 2K
LTPO 120Hz
Charging 90W/50W

Layar juga mendapat upgrade dengan teknologi “HyperRGB”. Klaimnya bisa memberikan kejernihan setara 2K tapi dengan konsumsi daya ala 1.5K. Kecerahan puncaknya tembus 3.500 nits. Ini penting banget kalau kalian sering preview hasil foto di bawah terik matahari Jakarta jam 12 siang.

Kapasitas Baterai: Ada Penyesuaian Global

Nah, ini bagian yang agak menyakitkan dan perlu kalian ketahui sebelum menabung. Ada perbedaan signifikan antara unit yang dijual di China dengan versi Global yang baru saja rilis ini.

Entah karena regulasi keamanan penerbangan atau struktur internal yang berbeda untuk frekuensi sinyal global, kapasitas baterainya dipangkas.

  • Xiaomi 17 (China): 7.000 mAh ➝ Global: 6.330 mAh
  • Xiaomi 17 Ultra (China): 6.800 mAh ➝ Global: 6.000 mAh

Penurunannya lumayan terasa, sekitar 800 mAh. Meskipun 6.000 mAh itu masih tergolong besar (ingat, Galaxy S26 Ultra masih menggunakan baterai yang lebih kecil), rasanya tetap ada yang “hilang”. Untungnya, charging speed masih ngebut di 90W (Ultra) dan 100W (Reguler), plus 50W wireless charging yang jadi standar wajib flagship masa kini.

Perjalanan Xiaomi 17 Series

+2 bln

Rilis China

Debut perdana dengan baterai jumbo

+1 hr

Global Launch (MWC)

Rilis resmi pasar internasional dengan penyesuaian spek

Pre-order Global

Mulai tersedia di Eropa dan Australia

Varian Sultan: Leitzphone Edition

Kalau kalian merasa Xiaomi 17 Ultra biasa kurang “fotografi banget”, Xiaomi juga membawa edisi khusus: Leitzphone powered by Xiaomi.

Harganya bikin meringis: EUR 1.999 (sekitar Rp33,4 juta). Apa yang kalian dapat? Selain branding “Leica Camera Germany” yang terukir di bodi, fitur kuncinya adalah manual zoom ring. Ya, cincin fisik untuk nge-zoom.

Harus diakui, ini adalah fitur impian bagi banyak antusias. Sensasi memutar cincin lensa untuk framing itu memberikan koneksi emosional yang berbeda dibanding mencubit layar (pinch-to-zoom). Tapi apakah sensasi itu seharga motor matic baru? Biarkan dompet kalian yang menjawab. Paket ini juga biasanya sudah termasuk Photography Kit Pro yang berisi grip kamera tambahan.

Harga dan Ketersediaan

Pasar Eropa memang selalu kebagian harga yang lebih “pedas” dibanding Asia karena pajak. Berikut adalah harga resminya:

  • Xiaomi 17 (12/256GB): EUR 999 (~Rp16,7 juta)
  • Xiaomi 17 Ultra (16/512GB): EUR 1.499 (~Rp25 juta)

Head-to-Head Varian Global

FiturXiaomi 17TOP PICK Xiaomi 17 Ultra
Baterai6330 mAh6000 mAh
Charging100W Wired
Harga€999€1499
Layar6.9 inch 2K
Sensor Utama1 inch LOFIC

Opini: Layak Ditunggu di Indonesia?

Sebagai penutup, peluncuran global Xiaomi 17 Ultra ini menegaskan satu hal: Xiaomi tidak lagi bermain di ranah “flagship killer” yang murah, tapi sudah menjadi trendsetter teknologi kamera mobile.

Langkah menggunakan mechanical zoom 75-100mm adalah inovasi yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar menaikkan megapixel atau kecerahan layar. Ini fitur yang benar-benar terpakai untuk menciptakan foto dengan dimensi yang lebih artistik.

Masalahnya untuk kita di Indonesia cuma satu: Ketersediaan. Biasanya varian Ultra masuknya agak telat, atau bahkan gaib. Kalau melihat konversi harganya yang tembus Rp25 juta (belum pajak masuk resmi), ini akan jadi barang hobi yang sangat niche.

Tapi kalau kalian merasa kamera HP zaman sekarang mulai membosankan dan “begitu-begitu saja”, Xiaomi 17 Ultra adalah angin segar yang sangat kencang. Bahkan meski baterainya disunat sedikit, kombinasi sensor 1 inci dan optik bergerak ini adalah setup impian yang akhirnya jadi kenyataan.

Sekarang tinggal satu pertanyaan tersisa: Samsung, apa langkah kalian selanjutnya dengan Galaxy S26 mendatang? Jangan sampai kalah inovasi kamera kalau nggak mau ditinggalin para antusias fotografi mobile! 📸✨

Kelebihan

  • Sensor 1-inci Light Fusion 1050L dengan LOFIC
  • Zoom mekanikal 75-100mm yang revolusioner
  • Lensa Telephoto bersertifikasi Leica APO
  • Layar super terang 3500 nits

Kekurangan

  • Kapasitas baterai turun dibanding versi China
  • Harga varian Ultra sudah masuk kategori 'laptop gaming'
  • Ketersediaan stok di Indonesia seringkali terbatas