WhatsApp Plus: Fitur Berbayar Meta Akhirnya Terungkap
Software

WhatsApp Plus: Fitur Berbayar Meta Akhirnya Terungkap

6 Maret 2026 | 5 Menit Baca | Nabila Maharani

Bukan hoax broadcast keluarga, Meta serius garap WhatsApp Plus. Tawarkan 20 pin chat dan kustomisasi tema, tapi wajib langganan bulanan.

Masih ingat pesan broadcast legendaris yang sering mampir di grup keluarga? Isinya kurang lebih menakut-nakuti kalau “WhatsApp akan berbayar mulai besok” kalau kita nggak meneruskan pesan itu ke 10 orang. Bertahun-tahun kita tertawa karena itu jelas hoax.

Plot twist-nya: di tahun 2026 ini, ramalan itu sebagian menjadi kenyataan.

Meta tertangkap basah sedang mengembangkan tier berlangganan yang kemungkinan besar diberi nama WhatsApp Plus. Buat yang hobi ngulik struktur APK, tanda-tanda langkah ini sebenarnya sudah tercium sejak beberapa update beta terakhir. Bedanya, kali ini bukan sekadar rumor kosong, tapi ada jejak kode nyata di versi Android Beta 2.26.9.6.

Tenang dulu, jangan buru-buru pindah ke Signal. Model bisnis yang diambil Meta ini sepertinya mengadopsi pendekatan “Freemium”. Jadi, fitur dasar buat kirim pesan ke gebetan atau share location ke abang ojol tetap gratis selamanya.

Klarifikasi Penting

WhatsApp Dasar Tetap Gratis. Layanan berlangganan “Plus” bersifat opsional. Jika Anda tidak membayar, fungsi chatting, panggilan suara, dan video call tidak akan berubah sama sekali.

Bedah Fitur: Kosmetik atau Fungsional?

Kalau kita lihat dari dump data yang bocor, daya tarik utama WhatsApp Plus ini terbagi jadi dua kategori: Vanity (Tampilan) dan Utility (Fungsi). Ini mirip banget sama strategi Discord Nitro atau Telegram Premium.

1. Kustomisasi Visual ala Custom ROM

Buat kalian yang dulu suka ngoprek Android di era CyanogenMod, fitur ini bakal terasa nostalgia. Meta akhirnya membiarkan user mengacak-acak tampilan UI WhatsApp—sesuatu yang selama ini haram hukumnya di ekosistem mereka.

Ada sekitar 19 opsi warna aksen yang ditemukan. Jadi, kalau bosan dengan warna “Teal” ikonik WhatsApp, subscriber bisa ganti elemen UI seperti tabs, filter buttons, dan floating action button (FAB) jadi warna lain. Pilihannya mulai dari Royal Blue, Violet, Coral, sampai Dark Olive Green.

Bukan cuma itu, ikon aplikasinya juga bisa diganti. Ada 14 desain baru dengan nama-nama unik seperti:

  • Aurora & Galaxy (mungkin gradasi warna)
  • Fluffy & Clay (desain 3D/neumorphism?)
  • Neon & Sparkle

Secara teknis, ini sebenarnya cuma perubahan variabel di level CSS atau resource mapping aplikasi. Tapi buat user, ini fitur personalization yang mahal harganya.

Logo WhatsApp
Source: Wikimedia Commons
Logo hijau ikonik ini nantinya bisa diganti dengan 14 variasi berbeda oleh pengguna berbayar.

2. Fitur ‘Dewa’ Buat Admin OLShop: 20 Pin Chat

Nah, ini bagian yang paling game changer. Selama ini, kita cuma dikasih jatah pin 3 obrolan di bagian paling atas. Buat user kasual, itu cukup. Tapi buat power user?

WhatsApp Plus menaikkan limit ini dari 3 menjadi 20 pinned chats sekaligus. Di Indonesia, di mana WhatsApp itu bukan cuma aplikasi chat tapi juga “sistem operasi” buat UMKM, fitur ini bakal laku keras. Admin toko online bisa menyematkan chat supplier, ekspedisi, grup internal, dan pelanggan VIP sekaligus tanpa pusing chat-nya tenggelam.

Jejak Digital WhatsApp Plus

+1 bln

Kode Awal Terdeteksi

Fitur 19 warna tema dan 14 ikon muncul di Android Beta v2.26.6.1.

Leak Nama & Limit Pin

Konfirmasi nama 'WhatsApp Plus' dan fitur 20 pin chat mencuat ke publik.

Waitlist Banner

Banner pendaftaran waitlist mulai muncul di Beta v2.26.9.6.

Strategi Monetisasi: Mengapa Sekarang?

Lho, kok Meta tiba-tiba butuh duit receh dari langganan bulanan? Padahal untung iklan mereka triliunan.

Sebenarnya ini langkah logis. Mengelola infrastruktur pesan instan buat 3 miliar pengguna itu biayanya nggak main-main. Server real-time, penyimpanan media, enkripsi end-to-end—semua itu membakar uang operasional (OPEX) yang gila-gilaan.

Telegram sudah membuktikan kalau orang rela bayar demi fitur eksklusif. Meta melihat success story kompetitornya dan berpikir, “Kenapa kita nggak ikutan?”

Kalau melihat pola roll-out Meta Verified, harga langganan di Indonesia kemungkinan akan disesuaikan dengan daya beli lokal (Regional Pricing). Nggak mungkin dipukul rata dengan harga US Dollar, kecuali mereka mau fitur ini nggak laku.

Analisis Teknis & Opini Developer

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah munculnya exclusive ringtones. Fitur ini dijanjikan bisa membedakan panggilan telepon biasa (seluler) dengan panggilan WhatsApp secara audio. Ini implementasi cerdas dari Android NotificationChannel API yang sering diabaikan developer.

Tapi, ada satu kekhawatiran. Nama “WhatsApp Plus” ini sebenarnya agak risky. Dulu, nama ini dipakai oleh aplikasi modifikasi (WA Mod) ilegal yang sering bikin akun orang kena banned. Meta harus kerja keras mengedukasi pasar kalau “Plus” yang ini adalah versi resmi, bukan aplikasi bajakan yang penuh malware.

Apakah Layak Dibayar?

Untuk 99% pengguna WA kasual, tidak. Fitur tema dan ganti ikon itu mewah yang nggak perlu.

Tapi kalau WhatsApp adalah kantor virtual Anda—dan buat jutaan UMKM Indonesia, memang iya—fitur 20 pin itu saja sudah cukup jadi alasan berlangganan. Bayar dua cangkir kopi sebulan demi manajemen chat yang rapi? Itu bukan luxury, itu produktivitas.

Yang lebih menarik dari soal harga adalah keberanian Meta membuka paywall di aplikasi yang selama ini jadi simbol komunikasi gratis. Kalau WhatsApp Plus sukses, jangan heran kalau Instagram dan Messenger ikut dapat tier serupa dalam 12 bulan ke depan. Meta sedang menguji seberapa jauh pengguna rela merogoh kocek—dan WA adalah lab eksperimen terbaiknya.